Ranah agama memang berada di irisan antara logika dan rasa. Jika Anda
perhatikan baik-baik semua dasar iman yang tertera di agama manapun
berada di ranah rasa, hati dan kepercayaan yang sifatnya abstrak dan
kadang sulit dibuktikan secara empiris. Tunggu dulu jangan kemudian
menghakimi saya sebagai sekuler atau julukan apapun yang sering
disematkan kepada orang-orang lain yang mencoba untuk berpendapat,
terutama di ranah sensitif ini. Tulisan ini saya buat, karena
kekhawatiran saya melihat bagaimana umat beragama (dan yang tidak
beragama), agama apapun, memanisfestasikan keberagamaan (dan
ketidakberagamaan) mereka dalam bermasyarakat, dalam berkehidupan di
dunia. Kekhawatiran saya ini muncul setelah mengamati bagaimana
orang-orang saat ini melihat agama hanya dari kacamata rasa saja atau
dari kacamata logika saja. Beragama hanya dengan rasa saja hanya akan
menuntun orang tersebut pada sikap fanatisme buta dengan mengesampingkan
rasionalitas. Hal itu tentu saja sangat berbahaya, pengejawantahan
ayat-ayat melalui tafsir-tafsir yang tidak rasional kadang berakhir
kontraproduktif dengan semangat awal agama tersebut muncul. Sedangkan
berpikir dengan logika saja dalam memahami agama, tentu akan menggiring
Anda menjadi tidak percaya akan adanya hal-hal yang tidak rasional dalam
agama. Seperti saya sebut diawal, dasar agama pun sebagian besar
disusun dari hal-hal yang sifatnya tidak rasional. Sehingga tidak
sedikit orang yang awalnya berangkat dari logika untuk memahami agama
kemudian menjadi tidak percaya adanya Tuhan.
Kemudian mana pendekatan yang benar dalam beragama? Karena agama
sendiri ada di kedua ranah rasa dan logika, maka harus dengan
keduanyalah kita ber-Tuhan. Tapi bukankah rasa dan logika bertolak
belakang? Sebenarnya jika mau jujur, manusia sendiri adalah bukti
otentik bahwa hidup bukan hanya sekedar logika ataupun sekedar rasa.
Manusia tidak bisa lepas dari keduanya, manusia membangun peradabannya
sendiri dengan rasa dan logika. Hidup keseharian manusia pun tidak lepas
dari keduanya, dan ketika keduanya mampu hadir berdampingan dalam satu
sosok manusia, terkadang kita melabeli manusia tipe ini dengan sebutan
sempurna. Baik hati dan juga cerdas dalam berpikir, bukankah itu
kombinasi karakter yang hebat.
Nah yang menjadi perdebatan sengit adalah ketika rasa itu sendiri
dianggap bukanlah monopoli agama saja. Banyak agnotis dan atheis yang
berpikir bahwa tidak valid mengatakan bahwa orang yang tidak percaya
agama atau tidak percaya Tuhan tidak bisa menjadi orang baik atau
memiliki rasa. Betul sekali, tapi kemudian hal ini menjadi
membingungkan. Bagaimana mungkin orang yang berpikir dengan logika
terhadap agama dan Tuhan, bisa percaya terhadap rasa yang sifatnya
abstrak. Kita sebut saja misalnya cinta, kasih sayang, dan seterusnya.
Secara fisik hal tersebut memang tidak ada namun bisa dirasakan, seperti
apa yang orang-orang beragama dan ber-Tuhan rasakan terhadap iman
mereka. Seperti saya sebutkan sebelumnya, bahwa manusia adalah bukti
otentik irisan dari rasa dan logika, sehingga memang wajar semua manusia
pasti akan memanisfestasikan keduanya dalam berkehidupan. Terlepas dari
beragama atau tidak, ber-Tuhan atau tidak.
Saya tidak membahas lebih jauh tentang apakah Anda harus beragama
atau tidak, ber-Tuhan atau tidak. Karena itu kurang lebih akan seperti
membicarakan tentang cinta dan akal sehat. Semua terserah Anda dan
keputusan personal Anda. Tetapi pada intinya, kadang mereka yang tidak
beragama dan ber-Tuhan adalah mereka yang kecewa terhadap agama dan
Tuhan. Dan kadang mereka yang beragama dan ber-Tuhan adalah karena
mereka mencintai agama dan Tuhan mereka. Subjeknya masih sama-sama agama
dan Tuhan. Sebenarnya ada juga jenis ketiga, yaitu mereka yang
ikut-ikutan beragama atau tidak beragama, karena tidak punya pilihan
baik secara sadar ataupun tidak sadar. Jenis yang mengenaskan.
Nah, yang akan saya kupas sekarang adalah tentang rasa dan logika
tadi dalam kehidupan beragama. Hal yang membingungkan adalah bagaimana
menyatukan keduanya dalam sikap dan pandangan beragama dan ber-Tuhan.
Itulah hal yang paling sulit dilakukan, kapan harus bertindak dan
berpikir dengan rasa dan kapan bertindak dan berpikir dengan logika,
apalagi jika Anda bersikap dan berucap atas nama agama.
Dalam dunia yang makin kompleks seperti saat ini, setiap orang
dituntut untuk dapat bertindak sesuai kaidah-kaidah konsesus sosial
kemasyarakatan yang pada dasarnya disusun berdasarkan dialektika yang
logis. Entah itu dalam bentuk produk hukum ataupun aturan sosial.
Kompleksitas itu mengacu pada bentuk hubungan antar manusia yang ada
saat ini. Kemajuan zaman ini menuntut perubahan disana-sini di dalam
kaidah-kaidah konsensus tadi. Dan di saat yang bersamaan agama dan
segala aturannya terlihat mulai usang dan ketinggalan zaman. Namun
apakah benar demikian? Seperti yang pernah saya tulis di salah satu
tulisan saya yang berjudul “Tantangan Ber-Islam di Zaman Moderen“,
terlihat bahwa sebenernya pada awal kemunculan setiap agama,
masing-masing mereka membawa nilai-nilai progresivitas dan inovasi. Yang
tentu saja keduanya menjawab permasalahan yang muncul saat itu.
Walaupun sebagian besar nilai-nilai itu bersifat spiritualitas yang
berada di ranah rasa, tetapi tidak sedikit juga nilai-nilai progesivitas
dan inovasi itu merambah ke ranah hubungan antar manusia, yang tentu
saja banyak yang mengedepankan logika ketimbang rasa.
Jadi sebenarnya, yang perlu kita lakukan hanyalah menempatkan rasa
dan logika di tempat semestinya. Keyakinan, keimanan, kepercayaan yang
merupakan ranah rasa sangatlah tepat untuk ditempatkan dalam konteks “why“,
sedangkan sikap dan ucapan yang merupakan manifestasi nyata cara
berpikir logis dalam kehidupan bermasyarakat akan tepat untuk
ditempatkan dalam konteks “how“. Itu bukan berarti bahwa
keduanya tidak hadir bersamaan, namun sebaliknya dengan begitu hubungan
sebab akibatnya jelas. Bahwa amal sudah seharusnya representasi dari
iman.
Jika kita lihat saat ini, banyak orang menempatkan rasa di dalam
konteks “how”, sehingga sikap dan ucapan mereka memang didominasi oleh
ranah yang kadang memang jauh dari akal sehat. Anda mungkin familiar
dengan orang-orang yang melakukan kekerasan atas nama agama. Hubungan
antar manusia mereka tidak berjalan baik sehingga yang mereka lakukan
memang benar-benar keluar dari pakem konsensus hukum yang mengedepankan
logika. Orang-orang yang terjebak dalam ranah rasa ini, seringkali
terjebak dalam “bentuk amal”. Ini yang pada akhirnya membuat agama itu
jauh dari nilai progesivitas dan inovasi, kita biasanya menyebutnya
konservatif atau kolot. Karena yang mereka lakukan hanyalah meniru
apa-apa yang orang-orang sebelumnya lakukan, tidak lebih.
Banyak juga yang menempatkan logika di wilayah “why” dimana
kepercayaan, keyakinan dan keimanan berada. Tentu saja inipun tidak
tepat, bagaimana Anda mau menjelaskan Tuhan, malaikat, hari akhir,
neraka dan akhirat jika parameter dan alat untuk mengukurnya saja tidak
ada. Kalaupun ada, Anda tahu ini dari kitab suci masing-masing. Di titik
ini jelas manusia terbatas terhadap konsep-konsep rasa. Ini sama saja
seperti menanyakan seberapa besar cinta Anda pada pasangan Anda, jika
ingin diukur dalam skala yang valid. Tetapi bukan berarti hal itu tidak
ada. Konsep ke-Tuhan-an itu jelas ada mengiringi sejarah umat manusia.
(Ini akan jadi bahasan yang menarik jika berdiskusi dengan teman-teman
atheis).
Kita harus sadari bahwa dunia sendiri adalah pengejawantahan dari
logika, sehingga pendekatan dan alat untuk memahaminya pun adalah ilmu
pengetahuan dan teknologi. Semua yang ada didalamnya pun merupakan
pengejawantahan logika yang kemudian manusia tuangkan dalam ilmu
pengetahuan. Hanya manusialah yang kemudian memasukkan rasa pada dunia
dan seluruh isinya, tanpa manusia siapa yang akan menyebut dunia ini
dunia, dan tanpa manusia apakah dunia akan seperti dunia saat ini? Jadi
sebisa mungkin jangan menempatkan rasa dan logika di tempat yang salah.
Jadikan rasa sebagai alasan dan logika sebagai amalan, dan keduanya
muncul dalam satu kesatuan, kepribadian.
Busan, 2013-06-14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar